Palembang – Di balik tembok tinggi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Palembang, sebuah inisiatif humanis lahir dari dedikasi para mahasiswa. Mahasiswa KKN Rekognisi Kelompok 92 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menghadirkan program unggulan bertajuk “Sharing Session”, sebuah ruang khusus bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk melepaskan beban pikiran dan berbagi dinamika kehidupan yang mereka jalani.

Program ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan upaya konkret dalam memperhatikan aspek kesehatan mental para warga binaan. Menyadari bahwa tekanan psikologis seringkali menjadi tantangan berat selama masa pembinaan, Kelompok 92 merancang sesi ini sebagai jembatan komunikasi yang hangat, inklusif, dan penuh empati.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi yang kuat antara mahasiswa dan jajaran pemasyarakatan. Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Rutan Kelas 1 Palembang, yang melihat pentingnya pendekatan psikologis bagi para penghuni.
Bapak Pandu Akbar Wijayanto, S.Tr.Pas, selaku Kasi Pelayanan Tahanan, memberikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh atas inisiatif yang dibawa oleh para mahasiswa. Beliau menilai kehadiran mahasiswa memberikan warna baru dalam proses pembinaan.
> “Kami sangat mendukung penuh kegiatan Sharing Session yang diinisiasi oleh adik-adik mahasiswa KKN UIN Raden Fatah ini. Program ini sejalan dengan komitmen kami dalam memberikan pelayanan terbaik, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental bagi warga binaan. Kami berharap melalui ruang curhat ini, warga binaan merasa lebih didengar dan dibimbing secara humanis,” ungkap Bapak Pandu Akbar Wijayanto.

Sebelum program ini rutin dilaksanakan, mahasiswa KKN Rekognisi Kelompok 92 telah melakukan langkah-langkah persuasif. Mereka mengawali kegiatan dengan penyuluhan dan sosialisasi yang dibalut dalam suasana santai, seperti pada momen senam pagi rutin di lapangan Rutan.

Tak berhenti di situ, kreativitas mahasiswa terlihat dari cara mereka menjangkau warga binaan melalui poster edukatif dan informasi di Majalah Dinding (Mading). Aliya Rohali, salah satu perwakilan Kelompok 92, menjelaskan bahwa mereka memposisikan diri bukan sebagai petugas, melainkan sebagai kawan cerita.
> “Kami hadir di sini bukan sebagai instruktur atau pengawas, melainkan sebagai sahabat. Kami menunggu mereka yang benar-benar siap dan butuh teman cerita. Intinya, ketika mereka butuh sandaran untuk berbagi beban pikiran yang mungkin selama ini dipendam sendiri, kami dari Kelompok 92 siap sedia mendengarkan tanpa menghakimi,” ujar Aliya Rohali.

Sesi berbagi ini menjadi wadah bagi para warga binaan untuk mencurahkan berbagai perasaan, mulai dari kerinduan pada keluarga, penyesalan, hingga harapan di masa depan. Dampaknya terasa nyata; salah satu warga binaan mengungkapkan bahwa ia merasa jauh lebih tenang dan berdaya setelah mengikuti sesi ini.
“Lewat sharing ini, saya merasa jauh lebih lega. Saya jadi punya cara untuk memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda karena adik-adik mahasiswa memberikan solusi yang sangat masuk akal dan membesarkan hati saya,” tuturnya dengan penuh syukur.

Langkah yang diambil oleh KKN Rekognisi Kelompok 92 UIN Raden Fatah Palembang ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian masyarakat bisa menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Dengan kondisi mental yang lebih sehat, diharapkan para warga binaan dapat menjalani masa pembinaan dengan pikiran yang lebih jernih demi menyongsong masa depan yang lebih baik.

Bagikan: