Jakarta, Indo Merdeka – Ribut-ribut pengadaan senjata pada bulan lalu mulai terungkap bahwa Angkatan Udara dan Angkatan Laut menolak senjata bekas yang akan dibeli Kemenerian.

Dugaan ini diungkap anggota MPR Nono Sampono yang juga wakil Senator di Jakarta, Senin (27/9/2021).

Dikatakan, sistim senjata sekarang berbeda dengan dahulu. Alutsista sekarang harus terintegrasi dengan sistim persenjataan lain.

“Kita pernah punya kapal perang yang dibeli bekas dari Jerman sampai sekarang jadi besi tua karena teknologinya berbeda, dan biaya perawatannya juga mahal”, ungkapnya.

Para pendahulu, kalau beli senjata untuk AL dan AU saat merebut Irian Barat atau Papua. Angkatan Laut pernah punya 12 Kapal Selam baru, belum lagi kapal-kapal perusak dan lain-lain.

“Kini kita hanya punya kapal Destroyer 3, yang levelnya di bawahnya,” ungkapnya.

Dahulu pernah punya pesawat tempur yang luar biasa dan pesawat pembom strategis. Sekarang kita punya apa, pesawat pem bom saja tidak punya.

“Kita hanya punya pemburu F16, Sukhoi tapi bukan jenis pesawat pembom strategis. Jadi ketinggalan jauh, apalagi di hadapkan dengan perang yang sekarang ini,” katanya.

Dari sisi anggaran, sejak sekian puluh tahun pihaknya bermain di pengadaan alutsista tidak lebih dari angka 2% dari PDB sejak orde baru, ke sini.

Jadi, dirinya tidak heran kalau Menteri Pertahanan mengajukan alokasi besar besaran anggaran untuk alutsist.

“Betul kita tidak ingin menyerang tetapi kondisi wilayah kita begini luas mengharuskan ada komponen-komponen yang digelar. Jangan sampai melupakan masalah keamanan karena harga diri kita, ditentukan oleh martabat kita atas kekuatan pertahanan keamanan itu sendiri,” imbuhnya.

Bayangkan jika ada orang petantang-petenteng di halaman rumah kita, kita diam. Sampai ke dalam pagar kita.

“Berarti kita lebih lemah dari generasi sebelum kita. Orang tua kita dulu lebih meyakini bahwa masalah harkat dan martabat bangsa ini tidak bisa ditawar, kira-kira begitu,” ujar Nono. Oce

Bagikan: