OKU Timur-Indomerdeka.Com – Hari guru Nasional yang di peringati setiap tanggal 25 november sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun HGN tahun 2025 memiliki makna yang semakin mendalam yang di alami oleh seorang guru Syekh Anto, S.Pd yang setiap hari pukul 6.00 wib pagi sudah menyiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju sekolah tempatnya mengajar.
Dari Desa Bangsa Negara, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten OKU Timur, ia harus menempuh perjalanan sekitar 45 kilometer menuju SD Negeri 2 Meluai, Kecamatan Cempaka, Kabupaten OKU Timur sekolah yang sudah ia layani selama enam tahun terakhir. Dimana letak SDN 2 Meluai ini terletak di dalam perkebunan PT Laju perdana Indah.
Bagi sebagian orang, jarak itu mungkin sekadar angka. Namun bagi Syekh Anto, yang sehari-hari melewati 10 kilometer jalan perkebunan PT Laju Perdana Indah, angka itu punya cerita panjang tentang perjuangan, dedikasi, dan kesabaran.
Bagaimana tidak, ketika musim kemarau, debu pekat menjadi sahabat tak terhindarkan. Asap putih tanah kering mengapit perjalanan sepanjang kebun, membuatnya harus terus fokus mengendalikan motor agar tetap stabil.
Namun tantangan sesungguhnya hadir ketika hujan mengguyur. Jalan tanah merah di perkebunan berubah menjadi lintasan licin, lengket, dan dalam. Waktu tempuh pun melar menjadi hampir 95 menit.
“Kalau musim hujan, tanah merah itu lengket sekali, susah dilewati. Ban motor sering tidak bisa berputar karena terlalu berat,” katanya, Selasa (25/11/2025)
Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa dari enam tahun masa baktinya, beberapa pengalaman paling melelahkan justru terjadi bukan di kelas, tetapi di jalan.
Pernah suatu hari, motornya mogok tepat di tengah kebun tebu. Tidak ada bengkel, tidak ada warga, hanya hamparan tanaman yang luas dan sunyi.
“Saya harus mendorong motor sekitar empat kilometer menuju bengkel terdekat,” ujarnya.
Tentunya jalan kaki sambil menyusuri kebun, di bawah terik matahari, menjadi ujian fisik sekaligus mental.
Ia juga menceritakan, kerusakan motor bukan sekali dua kali terjadi. Ban bocor maupun mesin bermasalah sering muncul di tengah perjalanan.
“Dan karena sepanjang 10 kilometer itu tidak ada bengkel, satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki sambil mendorong motor sampai menemukan pertolongan,” kenangnya.
Meski akses menuju sekolah penuh tantangan, Syekh Anto tidak pernah memiliki niat untuk mengeluh atau mundur.
Bagi pria yang lulus CPNS tahun 2019 ini, bekerja sebagai guru bukan sekadar profesi, melainkan amanah besar.
“Yang membuat saya semangat adalah tanggung jawab untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Saya ingin ikut mencerdaskan anak bangsa,” tuturnya.
Baginya, anak-anak SD Negeri 2 Meluai yang tinggal di wilayah perkebunan berhak mendapatkan pendidikan terbaik, meski sekolah mereka berada di pelosok dan jauh dari keramaian.
Syekh Anto bukan hanya datang mengajar. Ia membawa harapan, kehadiran, dan konsistensi yang membuat anak-anak tetap bisa belajar seperti siswa di daerah lain.
Di tengah cuaca yang berubah-ubah, jalan berlumpur, motor yang kadang menyerah di tengah kebun, serta jarak puluhan kilometer yang harus ditempuh setiap hari semangat itu tidak pernah padam. Inilah potret guru hebat yang keberadaannya sering luput dari perhatian.
“Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya soal hadir di sekolah. Tetapi hadir di hati anak-anak didik saya, walau seberapa jauh pun jaraknya,” pungkasnya. (Red/e)






