OKU Timur.Indomerdeka.Com – Sungguh malang nasib yang menimpa Muhammad Restu,anak berusia 4,5 tahun warga Kotabaru, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur.

Di usia yang seharusnya aktif bermain bersama teman sebaya, Restu kini lemas akibat diduga diagnosa penyakit pengapuran tulang kaki yang dideritanya, hingga menyebabkan dirinya tidak bisa berjalan.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit menjadi hambatan utama. Ayah Restu bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu, membuat pihak keluarga sempat kesulitan membiayai pengobatan secara maksimal.

Ibu kandung Restu, Wayan Rindi, menceritakan bahwa musibah ini bermula pada akhir September lalu. Saat itu, Restu terjatuh di rumah karena berlari mengejar ayahnya.

“Awalnya jatuh saat lari. Sudah kami obati ke medis dan alternatif dengan dana seadanya, sempat bisa jalan normal lagi. Tapi tiba-tiba di bulan November, anak saya tidak bisa jalan lagi,” ujar Wayan dengan nada sedih saat diwawancarai awak media.Minggu (15/02/2026)

Lanjut Wayan,Pada 12 Februari 2026, Restu dibawa ke RSUD Martapura. Berdasarkan diagnosa sementara, ia diduga mengalami pengapuran pada tulang kaki.

Pihak rumah sakit kemudian memberikan rujukan ke RSUD Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang untuk penanganan spesialis yang lebih intensif.

Meski memiliki BPJS Kesehatan, Wayan mengaku sempat pasrah karena tidak memiliki biaya operasional untuk bertolak dan tinggal di Palembang.

Kondisi Restu pun kian memprihatinkan karena adanya pembengkakan pada gusi yang membuatnya sulit makan.

“Kami bingung biaya hidup selama di Palembang nanti. Tapi Alhamdulillah, kemarin komunitas motor PUARE NMAX datang membantu biaya operasional. Berkat bantuan mereka, rencananya besok Senin (16/02) kami sekeluarga bisa berangkat ke Palembang,” tambahnya.

Melihat kondisi yang viral di media sosial, pendamping PKH Kementerian Sosial, Candra Putra, langsung meninjau lokasi setelah mendapat informasi dari pihak Kecamatan Martapura.

Candra menjelaskan bahwa hasil pengecekan data Kartu Keluarga menunjukkan keluarga tersebut masuk dalam desil 4. Namun, status BPJS Kesehatan mereka masih mandiri, yang secara sistem dianggap sebagai keluarga mampu oleh pemerintah.

“Kami bersama perangkat desa akan berupaya melakukan penurunan desil melalui aplikasi SIKS-NG agar keluarga ini bisa mendapatkan bantuan PKH dan BPNT. Status BPJS mandiri ini yang akan kami urus perubahannya agar meringankan beban mereka,” jelas Candra.

Pihak pendamping PKH juga berkomitmen untuk segera melaporkan temuan ini ke Dinas Sosial dan BAZNAS (Baznas) OKU Timur guna mendapatkan bantuan lanjutan bagi kesembuhan Muhammad Restu.

Bagikan: